{"id":476,"date":"2015-09-02T16:53:42","date_gmt":"2015-09-02T16:53:42","guid":{"rendered":"http:\/\/bookstechindonesia.com\/?p=476"},"modified":"2015-09-03T04:49:40","modified_gmt":"2015-09-03T04:49:40","slug":"catatan-ah-cy-hari-senin-dan-mesin-waktu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bookstechindonesia.com\/id\/2015\/09\/02\/catatan-ah-cy-hari-senin-dan-mesin-waktu\/","title":{"rendered":"Catatan Ah Cy: Hari Senin dan Mesin Waktu"},"content":{"rendered":"<p><strong><em>Jakarta, 2015<\/em><\/strong><\/p>\n<p>\u201cMasih ingat aku?\u201d<\/p>\n<p>Butuh waktu cukup lama untuk mencocokkan nama yang disebutkan lelaki bersuara asing ini dengan ingatan di kepalaku yang campur aduk seperti pakaian sepuluh ribu tiga di pasar baju bekas, apalagi di hari Senin begini. Namanya memang terdengar tak asing. Begitu akrab, namun juga begitu jauh. Aku terus memilah ingatan-ingatan itu dengan panik.<\/p>\n<p><em>Siapa katanya tadi? Taufik? Ya, Taufik, Opik. Opik. Opik\u2014<\/em><\/p>\n<p>Lalu, begitu saja aku seperti dibawa naik mesin waktu. Sosok si orang asing ini menjadi jelas di kepalaku. Sosoknya sebagai bocah setia kawan sekaligus menjengkelkan, tepatnya. Seketika aku tertawa, setengah tak percaya.<\/p>\n<p>\u201cOPIK! Astaga! Apa kabar? Dapat nomor aku dari mana?\u201d<\/p>\n<p>\u201cHahaha. Kan ada internet, Cici\u2026\u201d<\/p>\n<p>Panggilan itu. Lagi-lagi aku tertawa.<\/p>\n<p><strong><em>Jakarta, 1999<\/em><\/strong><\/p>\n<p>\u201cOpik, kan, aku sudah bilang, aku nggak suka dipanggil itu!\u201d<\/p>\n<p>\u201cHei, sudah, sudah!\u201d suara itu nyaris tenggelam di tengah teriakan dua bocah yang memekakkan telinga. Teras mungil Taman Bacaan Anak Lebah yang biasanya rapi itu, sore ini benar-benar berisik dan terlihat kacau.<\/p>\n<p>\u201cAh Cy, Taufik, sudah! Nanti kalau ada yang luka, gimana?\u201d<\/p>\n<p>Perlahan, kedua bocah itu menurunkan tangan masing-masing, sembari masih saling melempar tatapan tajam.<\/p>\n<p>\u201cAda apa, sih?\u201d<\/p>\n<p>\u201cAku sering bilang sama Opik kalau aku nggak suka dipanggil Cici. Tapi, dia malah sengaja!\u201d<\/p>\n<p>\u201cHabis, tadi Ah Cy mukul Ramli, Prof!\u201d<\/p>\n<p>Citos, pemuda yang dipanggil Prof itu, memalingkan pandangannya dari buku-buku yang berserakan ke arah Ah Cy. Merasa bersalah, perempuan kecil dengan kuncir dua yang sudah acak-acakan itu segera membela dirinya.<\/p>\n<p>\u201cTadi Ramli rebut buku yang lagi dibaca Ferdi, Prof! Opik, kamu kan lihat sendiri!\u201d<\/p>\n<p>\u201cBetul, Fer?\u201d<\/p>\n<p>Ferdinand, sembari duduk di depan rak buku memeluk lututnya yang gemetar, hanya mengangguk menahan tangis.<\/p>\n<p>\u201cTapi aku cuma bercanda, Prof. Ferdinand serius banget, sih. Kalau terlalu serius, nanti cepet tua, lho!\u201d protes Ramli, membuat Profesor Citos susah payah menahan tawa.<\/p>\n<p>\u201cIya, tapi boleh, nggak, merebut buku begitu?\u201d<\/p>\n<p>\u201cNggak boleh.\u201d<\/p>\n<p>\u201cJadi, harus bilang apa sama Ferdi?\u201d<\/p>\n<p>\u201cHmm, maafin aku, ya, Fer\u2026\u201d<\/p>\n<p>Lagi-lagi, Ferdinand yang masih memeluk lututnya hanya mengangguk.<\/p>\n<p>\u201cAh Cy, boleh, nggak, pakai kekerasan?\u201d<\/p>\n<p>Ah Cy menggeleng pelan.<\/p>\n<p>\u201cAyo, Ah Cy, Taufik, Ramli, juga maaf-maafan. Kalau sudah, nanti bukunya kita baca sama-sama, ya!\u201d Profesor Citos memungut buku yang kini tergeletak terbuka di lantai kayu, tepat di depan kaki Ferdinand. Buku tentang internet, rupanya.<\/p>\n<p>\u201cAda yang tahu, internet itu apa?\u201d<\/p>\n<p>\u201cApa, tuh, Prof?\u201d<\/p>\n<p>\u201cAku tahu, Prof! Di internet, kita bisa cari apa saja, kan, Prof?\u201d<\/p>\n<p>\u201cInternet itu adanya di komputer, ya, Prof?\u201d<\/p>\n<p>\u201cAku duluan, Cici!\u201d<\/p>\n<p>\u201cOpik, aku kan sudah bilang, aku nggak suka dipanggil itu!\u201d<\/p>\n<p>\u201cEh, sudah, sudah, jangan berantem lagi!\u201d Profesor Citos menggeleng-gelengkan kepala melihat Ah Cy sudah kembali siap dengan pose kuda-kuda andalannya.<\/p>\n<p><strong><em>Jakarta, 2015<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Aku bertemu Taufik dan yang lainnya di sebuah teras rumah teduh milik perempuan yang kami panggil Bibi Vera. Taman Bacaan Anak Lebah, demikian kami diperkenalkan pada tempat tersebut. Ingatanku terhadap tempat tersebut penuh hal-hal menyenangkan. Taufik, Ferdinand, Ramli, Sophia, dan nama-nama lain yang berusaha kuingat. Bibi Vera yang suka mendongeng. Profesor Citos yang pintar. Permainan, cerita-cerita, pertengkaran yang hanya berlangsung sepuluh menit, dan mimpi-mimpi masa kecil.<\/p>\n<p>Dari dulu, Taufik memang paling senang dengan teknologi. Ia juga paling suka berteman. Tak heran, kerjanya sekarang tak jauh-jauh dari IT. Tak heran juga, ia bisa punya ide mencari dan menghubungi kami satu per satu.<\/p>\n<p>Percakapan telepon singkat dengannya rupanya cukup untuk mengalihkan pikiranku dari pekerjaan. Aku memilih \u201cberlibur\u201d sejenak dari deretan <em>e-mail <\/em>di layar komputer dan bernostalgia sejenak ke hari-hari itu, di mana aku belum pernah terpikir sekali pun akan menghabiskan Senin sampai Jumat di depan benda ini.<\/p>\n<p>\u201cKayaknya, dulu kamu pinginnya jadi pengusaha, Cy, biar punya banyak uang, terus bisa jalan-jalan kayak Om Lee,\u201d kuingat kembali komentar Taufik itu saat ekor mataku menangkap sekumpulan miniatur pesawat, kereta, dan kapal laut di atas meja kerja. Lalu foto Papi yang membuat hatiku mencelus.<\/p>\n<p>\u201cNamanya juga mimpi masa kecil, Pik,\u201d jawabku sekenanya tadi. Aku tertawa kecil, entah menertawakan jawabanku yang pesimis atau diriku sendiri yang masih saja terperangkap di depan meja kantor. Aku jadi tak sabar ingin tahu apa yang kini dikerjakan teman-teman kami yang lain.\u00a0\u00a0\u00a0 \u201cOktober kita ketemu,\u201d kata Taufik sebelum menutup telepon, \u201cbuat <em>reminder<\/em> di ponselmu. Jangan di kalender meja, ya, Cici.\u201d<\/p>\n<p><em>Bagaimana ia bisa tahu? <\/em>batinku geli, sembari melingkari sebuah tanggal pada kalender dengan spidol merah. Kupejamkan mata, kembali sibuk dengan mesin waktu dari ingatan-ingatan berusia belasan tahun.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 2015 \u201cMasih ingat aku?\u201d Butuh waktu cukup lama untuk mencocokkan nama yang disebutkan lelaki bersuara asing ini dengan ingatan di kepalaku yang campur aduk seperti pakaian sepuluh ribu tiga di pasar baju bekas, apalagi di hari Senin begini. Namanya memang terdengar tak asing. Begitu akrab, namun juga begitu jauh. Aku terus memilah ingatan-ingatan itu dengan panik. Siapa katanya tadi? Taufik? Ya, Taufik, Opik. Opik. Opik\u2014 Lalu, begitu saja aku seperti dibawa naik mesin waktu. Sosok si orang asing ini menjadi jelas di kepalaku. Sosoknya sebagai bocah setia kawan sekaligus menjengkelkan, tepatnya. Seketika aku tertawa, setengah tak percaya. \u201cOPIK! Astaga!\u2026 <a href=\"https:\/\/bookstechindonesia.com\/id\/2015\/09\/02\/catatan-ah-cy-hari-senin-dan-mesin-waktu\/\" class=\"read-more-link\">read more &rarr;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":485,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[2],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bookstechindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/476"}],"collection":[{"href":"https:\/\/bookstechindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bookstechindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bookstechindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bookstechindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=476"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bookstechindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/476\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":477,"href":"https:\/\/bookstechindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/476\/revisions\/477"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bookstechindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/485"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bookstechindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=476"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bookstechindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=476"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bookstechindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=476"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}