Catatan Ah Cy: Hari Senin dan Mesin Waktu

Jakarta, 2015 “Masih ingat aku?” Butuh waktu cukup lama untuk mencocokkan nama yang disebutkan lelaki bersuara asing ini dengan ingatan di kepalaku yang campur aduk seperti pakaian sepuluh ribu tiga di pasar baju bekas, apalagi di hari Senin begini. Namanya memang terdengar tak asing. Begitu akrab, namun juga begitu jauh. Aku terus memilah ingatan-ingatan itu dengan panik. Siapa katanya tadi? Taufik? Ya, Taufik, Opik. Opik. Opik— Lalu, begitu saja aku seperti dibawa naik mesin waktu. Sosok si orang asing ini menjadi jelas di kepalaku. Sosoknya sebagai bocah setia kawan sekaligus menjengkelkan, tepatnya. Seketika aku tertawa, setengah tak percaya. “OPIK! Astaga!… read more →