Catatan Ferdinand: Dering Masa Lalu

Jakarta, 2015

Masih terngiang-ngiang permbicaraan telepon tadi siang. Seorang sahabat lama menghubungiku. Taufik. Dialah yang menyapaku tadi siang. Setelah belasan tahun terpisah, dia masih saja ingat nama lengkapku. Aku tentu saja terharu pada ingatannya ini.

“Ferdinand Leonard Manuhutu, apa kabarmu Nyong Ambon?”

“Aku baik-baik aja, Pik,” jawabku, memenggal nama panggilannya—‘Opik’—seperti ketika lidah sepuluhtahunku pertama kali mengeja namanya, “biasalah, sibuk di restoran. Nggak seperti kamu yang keren di kantoran.”

Aku dan Taufik pertama kali bertemu di sebuah taman baca ketika masa kecilku di Jakarta. Ketika itu kami sama-sama masih berusia sepuluh tahun. Bayangkan di usia sekuncup itu kami telah bersahabat, kemudian terpisah belasan tahun, lalu tadi siang berbincang lagi tentang taman baca itu.

Tanpa banyak basa-basi, Taufik langsung pada maksud ia mencariku.

“Fer, kita reunian, yuk! 31 Oktober nanti di acara BookSTech bareng anak-anak Taman Bacaan Anak Lebah lainnya.”

“Astaga, kau masih saja ingat taman baca itu.”

“Memangnya kamu sudah lupa?”

“Bukan, bukan begitu. Mana mungkin aku lupa,” protesku dengan senyum mengembang—yang tidak mungkin terlihat Taufik, “di situ kan aku kenal kamu yang bandel itu. Uh apa kabarnya ya Bibi Vera, Profesor Citos, Ah Cy…”

Aku masih mengingat-ngingat nama yang lain tetapi Taufik dengan cepat memotong kenangan yang baru saja ingin kulayari.

“Sudah, sudah, nanti saja nostalgianya! Pokoknya Oktober kamu harus ke Jakarta. Nggak seru kalau kamu nggak ada. Awas, kalau lupa!”

Aku tergelak. Ancaman Taufik mengingatkanku pada gayanya yang dulu: bicaranya lugas, efisien, dan tegas. Maklum, sejak kecil sudah ada bibit preman padanya.

Percakapan telepon diakhiri dengan Taufik yang berjanji untuk menghubungiku kembali mengenai detail acara. Aku sebenarnya penasaran dengan acara itu. Tetapi, benakku sudah disibukkan dengan kenangan di taman baca itu.

Jakarta, 1999

Sabtu pagi yang gembira. Teman-temanku sudah berkumpul. Beberapa terlihat sibuk memilih-milih buku dari rak.

“Selamat pagi, adik-adikkuuuu!”

“Selamat pagi, Bibi Veraaa!”

Bibi Vera tiba-tiba muncul. Kami membalas sapanya serentak dengan riang. Ramli, suaranya paling nyaring terdengar. Ia lalu meloncat duduk lesehan, diikuti kami semua. Suasana sedikit kacau karena semua berebut duduk di barisan paling depan. Semua berlomba berada paling dekat dengan Bibi Vera yang sudah berdiri anggun di depan. Ia tersenyum saja melihat ulah kami.

Dari semua temanku itu hanya aku dan Taufik yang malas-malasan memilih duduk di barisan belakang. Ternyata, Bibi Vera memperhatikan.

“Adik-adik sudah mandi?”

“Sudaaaah!”

“Siapa yang sudah mandi tapi masih ngantuk?”

Tidak ada yang menjawab. Kami malah kasak-kusuk sendiri, saling lirik.

“Benar tidak ada yang mengantuk?” tanya Bibi Vera lagi, memastikan. Suaranya lantang tetapi lembut. Jika sudah berdiri atau ikut duduk di depan kami, senyumannya tidak pernah berhenti. “Tadi Bibi lihat ada yang menguap, lho.” Kali ini raut wajah Bibi Vera terlihat usil menyelidik. Aku gelagapan. Teman-temanku makin kasak-kusuk, cekikikkan sana-sini saling tuduh. “Mau Bibi tunjuk orangnya atau ngaku sendiri?”

Aduh gawat, itu aku! Aku membatin, dan buru-buru mengacungkan tangan. Lebih baik mengaku duluan daripada ditunjuk dulu baru mengaku. Malunya akan dua kali lipat.

“Tuh kan, Bibi nggak salah lihat,” ujar Bibi Vera sambil mengayunkan dagunya ke arahku. Sontak semuanya menoleh ke belakang, ke arahku.

“Hahaha!”

“Cuma Ferdi yang mengaku? Tadi ada satu lagi, lho…” Bibi Vera masih saja usil. Ramai tawa kembali berganti bisik-bisik kasak-kusuk. “Mau Bibi tunjuk orangnya atau…”

“Akuuuu! Hahaha!” teriak Taufik tiba-tiba, memotong kalimat Bibi Vera. Pengakuannya tidak semengagetkan suara terbahaknya yang pecah sendiri.

“Hahaha!”

Semua kembali terbahak renyah kecuali Bibi Vera. Ia mengatup tawanya dengan kelima jemarinya. Bahunya terguncang-guncang.

Aku dan Taufik tidak dihukum karena ketahuan menguap. Bibi Vera memang tidak suka menghukum. Kalaupun ada, hukuman yang paling mendebarkan adalah disuruh menyanyi.

Sebenarnya ketahuan menguap seperti itu bukanlah sebuah kesalahan bagi Bibi Vera. Aku tahu, Bibi Vera sedang memeriksa kejujuran kami. Sudah sering ia usil seperti itu. Sudah sering pula ia berpesan bahwa kejujuran adalah inti dari semua sikap baik. Kalau selalu bersikap jujur maka sikap-sikap baik lainnya akan bangkit dalam diri kami.

Jakarta, 2015

Telepon dari Taufik seperti dering dari masa lalu. Aku jadi terlempar sejenak ke teras rumah Bibi Vera. Di situlah ia membuat taman baca yang membuat kami suka dengan buku. Tak hanya membaca, di akhir pekan ia suka mendongeng. Ini yang selalu kami tunggu.

Sederet nama kembali berbaris di benakku. Mulai dari Profesor Citos, Makcik Dhani, Kak Daus, hingga teman-teman sepermainanku. Selain Taufik, aku teringat pada Ah Cy, Ramli, Putri, Ahmad, dan Sophia. Kami semua sebaya, sama-sama masih duduk di kelas 3 SD. Apa kabar mereka semua? Apakah mereka mengingatku seperti aku yang saat ini mengingat mereka?

Mulai saat ini, Oktober menjadi bulan yang paling kunanti.